|
lalu... ketika mataharimu berpacu menembus liang jiwaku aku melenguh tertahan disekujur baramu diamku kaku, seakan tak lagi punya hidup seperti pohon-pohon palem yang tegak berdiri disitu
lalu... aku terkapar disudut elegimu seperti onggokan janin ditempat sampah yang dibuang ibunya karena dikira anak jadah
bukan itu yang kini terpikir lagi tetapi hadirmu kali ini tak sekedar basa basi saat tanpa ragu kau renggut bibirku yang makin kelu
|