Monday, March 10, 2008
Aku tak pernah bisa
meski hanya menghapus sisa bayangmu
yang melekat erat menjerat
Aku bukan memujamu
meski kutak pernah bisa menyangkal
memori itu sama sekali belum bisa terganti
dengan apapun
Biar kini kau tak lagi disini
menulis lembar-lembar diary pada petak hariku
tapi bola matamu selalu saja menemani sendiriku
Maaf...
Aku masih mencintaimu
Ditulis pada 11:27 am oleh iwank rindasmara
Permalink
Monday, February 04, 2008
pada jingga-Mu senja ini
aku menulis tentang kekalutan yang tiba-tiba melandaku
tak bisa bergerak
sekedar melihat awan-awan emas berarak melintasi cakrawala
lalu mengagumi-Mu
lalu menyembah-Mu
mengapa kegelapan disepanjang waktuku
jauh lebih merajai daripada keindahan senja-Mu ini
hingga aku kehilangan persembahan
kehilangan Isya', Subuh, Dhuhur, Ashar juga Maghrib-Mu
begitu saja aku terpelanting jatuh
terkapar pada perjamuan syetan
dimana setiap hari selalu menyuguhkan keindahan semu
hitam dan serasa memuaskan
duh Gusti,
aku begitu rindu perjamuan kita berdua
digelaran sajadah juga zikir-zikir panjang teruntai
duh Sang Maha,
berikan satu cahaya itu kembali kepadaku
agar aku tak lagi menjadi sampah
diatas dunia-Mu yang indah
Ditulis pada 10:04 am oleh iwank rindasmara
Permalink
Tuesday, January 29, 2008
Setelah lelapku bersemayam
dalam hening seperti kematian yang tiba-tiba
aku bangun bersama nafas tersengal-sengal
mencampakkan mimpi gelisah
yang baru saja menamparku
ah sepi disini, pada kemana?
jejak pun tak ada
apalagi cengkerama dan canda tawa
gundahku membucah
terasa lelah
apalagi?
kecuali pasrah
Ditulis pada 03:22 pm oleh iwank rindasmara
Permalink
Wednesday, September 13, 2006
Sanggupkah engkau membantuku
untuk bangkit dari keterpurukanku?
Nyala lampu itu telah remang
mampukah engkau menjadi lentera disetiap langkahku?
Aku hanya manusia
yang masih butuh peraduan
untuk mengendapkan rapuhku...
Ditulis pada 03:37 pm oleh iwank rindasmara
Permalink
Aku hanya tertelungkup dalam sujudku yang hening
kekalutan hatiku mengalir pada basahnya air mata
tepekurku terendam balutan doa menggema
memenuhi ruang hati dan kekosongan nurani
Letihku ini hendak kubuang sejauh mungkin
sampai langit ke tujuh sana jika bisa
aku ingin menggantinya denganmu
yang ternyata adalah cahaya jernih pada palung gelapku
hidup dan menjadi kemewahan dalam lemahku
Jika ini adalah pilihan
atau ini adalah pertaruhan
maka aku ingin seperti inilah mimpiku yang nyata
menjelma dan meruang seluas luasnya
Nyatakah dirimu sebenarnya??
Ditulis pada 03:28 pm oleh iwank rindasmara
Permalink
Friday, September 08, 2006
Mam....
Hidup ini memang tak mudah
seperti membalikkan telapak tangan
penuh lika liku dan reka daya
rasa, kebenaran, tipudaya, salah paham
cinta, benci, khayalan, mimpi, kenyataan
semuanya akan silih berganti datang
menerpa dalam ruang hidup ini
Mam...
Apa yang kita lakukan dan kita rasa saat ini
itulah kenyataan
kehadiran yang akan menjadi sejarah di masa datang
Mam...
Jangan sedih ya
air mata tak apalah sering menghiasi diri
asal jangan mempertaruhkan hati dengan kedukaan
I'll support your life...
Ditulis pada 10:05 pm oleh iwank rindasmara
Permalink
Saturday, September 02, 2006

Meski tangan tak bisa meraih
tapi semoga ada hati yang masih bisa merasa
menjadi kenangan pada saat kita jauh
pengobat rindu...
Ditulis pada 12:01 pm oleh iwank rindasmara
Permalink
Monday, August 28, 2006
Bulan datang malam ini...
mengantarkan secarik pesanmu pada selembar kertas bisu
aku telusuri bait-baitnya
dan aku menemukanmu sendirian disana
membawa setumpuk lelagu rindu
pada setangkai cinta yang jauh menunggu
Sudah...
ratapanmu terlalu sayang tercecer dipinggiran selokan
simpan saja untuk rindumu esok waktu
seseorang yang mungkin datang menghampirimu
dengan segudang tawa dan gembira
Kemudian...
kau pasti ingin menebar semai diladangnya
agar tumbuh mekar tunas baru yang sekian lama layu
menjadi sejarah baru untukmu...
:Fa <mendung telah runtuh bukan?>
Ditulis pada 06:48 pm oleh iwank rindasmara
Permalink
lalu...
ketika mataharimu berpacu menembus liang jiwaku
aku melenguh tertahan disekujur baramu
diamku kaku, seakan tak lagi punya hidup
seperti pohon-pohon palem yang tegak berdiri disitu
lalu...
aku terkapar disudut elegimu
seperti onggokan janin ditempat sampah
yang dibuang ibunya karena dikira anak jadah
bukan itu yang kini terpikir lagi
tetapi hadirmu kali ini tak sekedar basa basi
saat tanpa ragu kau renggut bibirku
yang makin kelu
Ditulis pada 06:43 pm oleh iwank rindasmara
Permalink
Saturday, October 08, 2005
Sang Khaliq, Maha Perkasa
Hamba-Mu berulang kali tercebur ke lubang sumur
tersedak gas racun yang jahat
melumatku hingga luluh berbau peluh
merenta disetiap ujung waktu
membatu lalu terkoyak di pinggir jalanan
Sang Maha Penguasa,
keterpanaanku pada selarik cahaya
diantara ribuan busur panah goda dunia
membuatku meski antri berjejal-jejal
hanya untuk memasuki toilet gelap
di sudut terminal kehampaan
lalu membenamkanku dalam-dalam
menghirup aroma kesenyapan
Sang Maha Bijaksana,
sungguh kiranya kini aku mampu kembali
mendaki dinding sumur yang sudah berlumut kabut
mencapai dunia terang diatas sana
membersihkan nurani hitam
disepanjang nafasku
cahaya-Mu ku yakin tak akan pernah sirna
mencopoti baju kedunguanku yang sekian lama menyatu
Sang Maha Pengasih,
aku ingin cinta ini abadi
sepanjang umurku menemani jasadku
setia bersujud diatas sajadah usang
hanya untuk-MU
Ditulis pada 10:54 pm oleh iwank rindasmara
Permalink