SHORT STORY ABOUT ME

Aku menangis ketika dilahirkan (katanya!). Tapi tangisanku adalah tawa kebahagiaan kedua orang tuaku. Aku lahir di Jogja (tepatnya di sebuah ladang pesisir di lereng perbukitan ::South Hill :: Dhaksinarga :: Gunungkidul::). Sekarang aku mencari celah kehidupan::cita-cita::jatidiri:: di kota Semarang (yang panas tapi asik juga loh!). Sehari-hari beraktivitas pada sebuah jalan :: graphic designer :: namun hobiku yang satu ini (nulis) tak begitu saja hilang. maka lewat media blog ini kusempatkan menuangkan beberapa kalimat sebagai pencerahan hati, pencurahan hati, penghilang gundah, pemusnah gelisah atau nasehat diri saat aku goncang ditinggalkan hasrat dan keyakinan.


TINGGALKAN PESAN & KESAN

   


PREVIOUS POST

<< February 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29


Link Kawan

  • Moyank
  • Cheche
  • Ken Fitria
  • Angin Berbisik
  • Penamerah
  • Hujan Badai



    MENUJU PADANG MBULAN

    Kita yang telah terlahir menjadi makhluk sempurna, penghuni kesenyapan dan kadang riuh dunia. Bergelut membanting asa, memeras keringat bahkan menyabung harga diri untuk suatu tujuan tertentu. Pagi siang dan malam, serta bulan dan bintang, angin dan sunyi, menjadi hiasan yang maha indah, mengiringi langkah dan pijakan kaki diatas bumi.

    Alangkah merdunya suara lagu alam saat hati riang tiada duka. Alangkah manisnya matahari pagi membangunankan dedaunan yang kedinginan dibalut embun. Alangkah berdukanya jika rembulan malam menjadi hitam karena tertutup mendung dan air mata. Alangkah sedihnya saat matahati tak lagi bisa mencari dan melihat keindahan.

    Mari kita bersihkan malam agar rembulan kembali "padang", terang dan bersih cemerlang. Menjadi kencana yang berpijar penuh cinta. Kuatkan keyakinan, tekad dan semangat menuju perubahan dan perbaikan.

    Wrote by Wawan | 16/09/2005





    rss feed



  • Monday, February 04, 2008
    Satu Cahaya

    pada jingga-Mu senja ini
    aku menulis tentang kekalutan yang tiba-tiba melandaku
    tak bisa bergerak
    sekedar melihat awan-awan emas berarak melintasi cakrawala
    lalu mengagumi-Mu
    lalu menyembah-Mu

    mengapa kegelapan disepanjang waktuku
    jauh lebih merajai daripada keindahan senja-Mu ini
    hingga aku kehilangan persembahan
    kehilangan Isya', Subuh, Dhuhur, Ashar juga Maghrib-Mu

    begitu saja aku terpelanting jatuh
    terkapar pada perjamuan syetan
    dimana setiap hari selalu menyuguhkan keindahan semu
    hitam dan serasa memuaskan

    duh Gusti,
    aku begitu rindu perjamuan kita berdua
    digelaran sajadah juga zikir-zikir panjang teruntai

    duh Sang Maha,
    berikan satu cahaya itu kembali kepadaku
    agar aku tak lagi menjadi sampah
    diatas dunia-Mu yang indah



    Ditulis pada 10:04 am oleh iwank rindasmara

     

    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry Home Next Entry