SHORT STORY ABOUT ME

Aku menangis ketika dilahirkan (katanya!). Tapi tangisanku adalah tawa kebahagiaan kedua orang tuaku. Aku lahir di Jogja (tepatnya di sebuah ladang pesisir di lereng perbukitan ::South Hill :: Dhaksinarga :: Gunungkidul::). Sekarang aku mencari celah kehidupan::cita-cita::jatidiri:: di kota Semarang (yang panas tapi asik juga loh!). Sehari-hari beraktivitas pada sebuah jalan :: graphic designer :: namun hobiku yang satu ini (nulis) tak begitu saja hilang. maka lewat media blog ini kusempatkan menuangkan beberapa kalimat sebagai pencerahan hati, pencurahan hati, penghilang gundah, pemusnah gelisah atau nasehat diri saat aku goncang ditinggalkan hasrat dan keyakinan.


TINGGALKAN PESAN & KESAN

   


PREVIOUS POST

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Link Kawan

  • Moyank
  • Cheche
  • Ken Fitria
  • Angin Berbisik
  • Penamerah
  • Hujan Badai



    MENUJU PADANG MBULAN

    Kita yang telah terlahir menjadi makhluk sempurna, penghuni kesenyapan dan kadang riuh dunia. Bergelut membanting asa, memeras keringat bahkan menyabung harga diri untuk suatu tujuan tertentu. Pagi siang dan malam, serta bulan dan bintang, angin dan sunyi, menjadi hiasan yang maha indah, mengiringi langkah dan pijakan kaki diatas bumi.

    Alangkah merdunya suara lagu alam saat hati riang tiada duka. Alangkah manisnya matahari pagi membangunankan dedaunan yang kedinginan dibalut embun. Alangkah berdukanya jika rembulan malam menjadi hitam karena tertutup mendung dan air mata. Alangkah sedihnya saat matahati tak lagi bisa mencari dan melihat keindahan.

    Mari kita bersihkan malam agar rembulan kembali "padang", terang dan bersih cemerlang. Menjadi kencana yang berpijar penuh cinta. Kuatkan keyakinan, tekad dan semangat menuju perubahan dan perbaikan.

    Wrote by Wawan | 16/09/2005





    rss feed



  • Monday, August 28, 2006
    Saat Mesti Menghilang

    Bulan datang malam ini...
    mengantarkan secarik pesanmu pada selembar kertas bisu
    aku telusuri bait-baitnya
    dan aku menemukanmu sendirian disana
    membawa setumpuk lelagu rindu
    pada setangkai cinta yang jauh menunggu

    Sudah...
    ratapanmu terlalu sayang tercecer dipinggiran selokan
    simpan saja untuk rindumu esok waktu
    seseorang yang mungkin datang menghampirimu
    dengan segudang tawa dan gembira

    Kemudian...
    kau pasti ingin menebar semai diladangnya
    agar tumbuh mekar tunas baru yang sekian lama layu
    menjadi sejarah baru untukmu...

    :Fa <mendung telah runtuh bukan?>


    Ditulis pada 06:48 pm oleh iwank rindasmara

     

    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry Home Next Entry