lalu...
ketika mataharimu berpacu menembus liang jiwaku
aku melenguh tertahan disekujur baramu
diamku kaku, seakan tak lagi punya hidup
seperti pohon-pohon palem yang tegak berdiri disitu
lalu...
aku terkapar disudut elegimu
seperti onggokan janin ditempat sampah
yang dibuang ibunya karena dikira anak jadah
bukan itu yang kini terpikir lagi
tetapi hadirmu kali ini tak sekedar basa basi
saat tanpa ragu kau renggut bibirku
yang makin kelu
Ditulis pada 06:43 pm oleh iwank rindasmara