SHORT STORY ABOUT ME

Aku menangis ketika dilahirkan (katanya!). Tapi tangisanku adalah tawa kebahagiaan kedua orang tuaku. Aku lahir di Jogja (tepatnya di sebuah ladang pesisir di lereng perbukitan ::South Hill :: Dhaksinarga :: Gunungkidul::). Sekarang aku mencari celah kehidupan::cita-cita::jatidiri:: di kota Semarang (yang panas tapi asik juga loh!). Sehari-hari beraktivitas pada sebuah jalan :: graphic designer :: namun hobiku yang satu ini (nulis) tak begitu saja hilang. maka lewat media blog ini kusempatkan menuangkan beberapa kalimat sebagai pencerahan hati, pencurahan hati, penghilang gundah, pemusnah gelisah atau nasehat diri saat aku goncang ditinggalkan hasrat dan keyakinan.


TINGGALKAN PESAN & KESAN

   


PREVIOUS POST

<< October 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


Link Kawan

  • Moyank
  • Cheche
  • Ken Fitria
  • Angin Berbisik
  • Penamerah
  • Hujan Badai



    MENUJU PADANG MBULAN

    Kita yang telah terlahir menjadi makhluk sempurna, penghuni kesenyapan dan kadang riuh dunia. Bergelut membanting asa, memeras keringat bahkan menyabung harga diri untuk suatu tujuan tertentu. Pagi siang dan malam, serta bulan dan bintang, angin dan sunyi, menjadi hiasan yang maha indah, mengiringi langkah dan pijakan kaki diatas bumi.

    Alangkah merdunya suara lagu alam saat hati riang tiada duka. Alangkah manisnya matahari pagi membangunankan dedaunan yang kedinginan dibalut embun. Alangkah berdukanya jika rembulan malam menjadi hitam karena tertutup mendung dan air mata. Alangkah sedihnya saat matahati tak lagi bisa mencari dan melihat keindahan.

    Mari kita bersihkan malam agar rembulan kembali "padang", terang dan bersih cemerlang. Menjadi kencana yang berpijar penuh cinta. Kuatkan keyakinan, tekad dan semangat menuju perubahan dan perbaikan.

    Wrote by Wawan | 16/09/2005





    rss feed



  • Saturday, October 08, 2005
    Pasrah

    Sang Khaliq, Maha Perkasa
    Hamba-Mu berulang kali tercebur ke lubang sumur
    tersedak gas racun yang jahat
    melumatku hingga luluh berbau peluh
    merenta disetiap ujung waktu
    membatu lalu terkoyak di pinggir jalanan

    Sang Maha Penguasa,
    keterpanaanku pada selarik cahaya
    diantara ribuan busur panah goda dunia
    membuatku meski antri berjejal-jejal
    hanya untuk memasuki toilet gelap
    di sudut terminal kehampaan
    lalu membenamkanku dalam-dalam
    menghirup aroma kesenyapan

    Sang Maha Bijaksana,
    sungguh kiranya kini aku mampu kembali
    mendaki dinding sumur yang sudah berlumut kabut
    mencapai dunia terang diatas sana
    membersihkan nurani hitam
    disepanjang nafasku

    cahaya-Mu ku yakin tak akan pernah sirna
    mencopoti baju kedunguanku yang sekian lama menyatu

    Sang Maha Pengasih,
    aku ingin cinta ini abadi
    sepanjang umurku menemani jasadku
    setia bersujud diatas sajadah usang
    hanya untuk-MU

    Ditulis pada 10:54 pm oleh iwank rindasmara

     

    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry Home Next Entry